VIII-7
Rainy’s Rainbow
“Teng... teng...!” bel istirahat dari sebuah lonceng tua berbunyi nyaring serasa menyayat telinga. Bunyi merdu itu disambut desah panjang murid-murid di kelas kumuh yang hanya berdinding kayu rayapan.
“Sekarang waktunya kalian istirahat, kalian kerjakan PRnya dan besok kita cocokkan sama-sama!” perintah seorang guru di depan kelas dengan halus dan senyuman ceria di wajahnya.
“Iya..Bu” jawab murid-muridnya menurut. Ternyata tidak semua murid menyambut tugas gurunya.Seorang murid perempuan yang duduk paling ujung kelas terlihat jelas dari raut mukanya mengatakan tidak untuk selamanya.
Monic menutup bukunya dengan malas dan lesu, ia mengambil handphone dan headsetnya di kantong tas hitam dengan corak hijau artistik miliknya. Ia menyetel musik korean dari boyband kesukaannya, yaitu Super Junior sambil membaringkan kepalanya di tangan dan menutup matanya menikmati lagu hingga hampir saja tertidur tanpa memerhatikan apapun disekelilingnya. Ia mendengar samar-samar langkah pelan dari sandal bersol tipis murahan terselip dalam lagunya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap teman sekelasnya menghampiri dirinya dengan senyuman persahabatan terlukis di wajahnya.
“Ada apa ?” tanya Monic tanpa ekspresi bahkan mungkin terlihat menyebalkan untuk seorang pendatang sepertinya.
“Sudah 2 hari disini, kulihat kau tak pernah pergi ke kantin. Apa kau puasa ?” tanya teman perempuannya ramah.
Monic tak langsung menjawab dan melanjutkan tidurnya sambil berkata seakan menggigau, “Aku takkan mempunyai setitik pun selera makan di kantin seperti itu”
“Mungkin, kau masih biasa dengan sekolah elit yang menjaga kebersihan. Tapi kudoakan kau akan terbiasa nantinya di tempat ini dan salam kenal ya, aku Nita” jawab Nita masih tetap dengan nada ramah tanpa ada sedikitpun dari ucapannya terlihat ia begitu tersinggung.
Walaupun kedua telinganya tertutup oleh headset, tapi ia mendengar jelas suara Nita. Dalam pejaman matanya ia membayangkan apa yang membuat dirinya, seorang anak pengusaha sukses bisa duduk bangku sekolah di pinggiran dan begitu kampungan.
*****
Monic menyambut ayahnya dengan senyuman ceria tersungging di bibirnya sambil membawa sebuah kertas piagam yang baru ia dapatkan. Ia sudah menantikan kehadiran ayahnya dari kantor sejak ia menginjakkan kaki di rumah dan berharap hadiah yang tak ia bayangkan sebelumnya melengkapi nasib baiknya hari ini.
Ayahnya hanya tersenyum membalasnya tanpa berkomentar apapun. Suatu hal yang mengherankan bagi Monic... bukan senyum kebanggaan tapi senyum yang dipaksakan sebagai penghargaan atas perjuangannya memperoleh gelar juara. Monic menatap nanar ke arah punggung ayahnya yang berjalan ke arah kamar tanpa memedulikannya biarpun hatinya sedikit curiga dengan sikap ayahnya.
“Sudah hampir satu jam ayah dan ibu belum juga keluar dari kamar. Sebenarnya ada apa hari ini ? tiba-tiba jadi berubah tak seperti biasaayahnya bersikap demikian” batin Monic tak tenang sambil menatap buku pelajarannya. Monic terdiam sebentar memutar pensil di tangannya, mulai berfikir apa saja yang mungkin terjadi dalam keluarganya hari ini. Akan tetapi tak satu jawaban di pikirannya dapat menjawab pertanyaan yang membuat kosentrasi belajarnya menurun drastis.
Monic membuka pintu kamar orangtuanya perlahan sambil terus mengintip. Ia melihat ibu menangis di pelukan ayah dan ayah melamun ke arah sebuah foto keluarga besar Monic yang terpanjang di atas TV.
“Sebenarnya,....” kata Monic mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya walaupun pertanyaan itu dipotong langsung oleh ayahnya.
“Kita akan pindah dari rumah ini, kita akan hidup di desa seperti dulu” potong ayahnya tanpa melihat Monic seakan tak bicara padanya.
“Apa maksud ayah ? Monic tak bisa pindah dari tempat ini apalagi ke desa. Ayah tahu kan, Monic itu ingin sukses seperti ayah bahkan lebih. Jadi Monic harus belajar di sekolah yang berkualitas bukan di desa” protes Monic tanpa memikirkan dampak dari ucapan protesnya.
“Mungkin kau takkan percaya ini, Nak. Tapi kau harus menghadapi kenyataan kalau kita miskin sekarang. Semua yang kita miliki hanyalah harta yang mudah lenyap seketika dan sekarang semua itu sudah lenyap”. sambung ayahnya.
Tak sengaja Monic menjatuhkan dengan keras buku berisi piagam kemenangannya hari itu dan berlari menjauhi kamar orangtuanya.
*****
“Aku sudah tahu, semua ini pasti akan terjadi. Sejak ayah bekerja dengan perusahaan tak berkompeten itu, aku sudah menduga perusahaan itu hanya mengicar harta saja dan sekarang semua itu telah diambil olehnya dengan penipuan kejamnya. Meski telah terjadi, tapi bagiku semuanya ini merubah kehidupanku, impianku, cita-citaku, segalanya. Semoga ini tak berjalan terlalu lama” batin Monic memanjakan dirinya di ranjang kayu yang menurutnya keras dan membuat badannya selalu sakit dan pegal tiap kali bangun tidur.
“Monic,...sudah seharian kau hanya terbaring dalam mimpimu. Tak ada PR untuk besok ?’ terdengar suara ibunya dari luar kamar yang semakin jelas. Monic membuka matanya dengan mendengus, ia bangkit dari ranjang dan membuka pelajaran esok. Tapi tak sampai satu detik ia membaca buku IPS di depan matanya, ia sudah tertidur di meja belajar kayu usang peninggalan ayahnya waktu kecil.
Monic terbangun dengan tiba-tiba setelah asyik memimpikan dirinya terjatuh dari jurang saat berlarian di sekolahnya. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.00, segera ia mengumpulkan nyawanya. Barulah terdengar dengan jelas suara-suara dari kejauhan rumahnya gamelan dan sinden membuatnya terjatuh dari kursi dengan keras. Ia merasakan kengerian masuk ke tubuhnya, “Suara apaan ini, ngeri amat” batinnya berdiri mencari dengan cepat HP dan headset di loker meja belajarnya. Suara musik korean menyejukkan hati sudah berdering di telinganya meghilangkan kengerian di hatinya. Ia membuka pintu kamarnya perlahan-lahan sambil mengintip keadaan rumahnya. Terdengar percakapan pelan terlintas di telinganya dan dengan jelas ia bisa melihat di ruang tamu sempitnya kedua orangtuanya berbincang-bincang dengan seseorang yang badannya tertutup oleh lemari kayu. Ia melepas headsetnya dan berusaha mendengarkan suara laki-laki tamu keluarganya di malam gelap gulita seperti ini. Usahanya sia-sia, ia benar-benar tak mengenali siapa di balik suara itu.
Pembicaraan yang hanya terdengar samar-samar itu membuatnya cuek, Monic kembali menutup pintu kamarnya untuk merebahkan dirinya tertidur hingga sinar pagi menyingsing membangunkannya. Monic duduk di tempat tidurnya dengan tampang merenung sampai ibunya masuk dengan cepat begitu melihatnya, “Monic, kau tidak sekolah hari ini ?” tanya ibunya heran.
“Aku tak ingin sekolah” jawabnya pendek menundukkan kepalanya mengingat sekolah lama dan seluruh kenangan indah bersama teman-temannya.
“Katanya kau ingin jadi ilmuwan ? kenapa jadi patah semangat hanya karena kejadian ini Ibu janji ini takkan berjalan lama, kau akan segera kembali ke sekolahmu, ke rumahmu, ke lingkunganmu yang dulu begitu kakakmu selesai kuliah dan mendapat pekerjaan untuk membiayai kehidupanmu disana” jawab ibunya mengulang penjelasannya pada hari kepindahan keluarganya tiga hari yang lalu.
“Apa semuanya baik-baik saja seperti dulu ? aku tak percaya Bu” jawab Monic semakin suntuk.
“Ibu janji dengan satu syarat, kau pun harus janji dengan ibu untuk menjadi Monic yang dulu, penuh semangat, ceria, rajin belajar, selalu juara kelas. Ibu dengar kamu malasl, cuek tak mendengarkan pelajaran. Ibu tak suka kau melakukan itu sebagai wujud protesmu”
Monic terdiam sebentar mencerna kata-kata ibunya, ia tak peduli dengan hari yang semakin siang hingga ayahnya masuk menuju ke arah Monic, “Ayah juga mau ngomong sesuatu yang sangat penting denganmu”. Monic tetap tak menjawab meski ibunya telah keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan sangat pelan.
“Monic, ayah pingin kau mengikuti ekstra gamelan di sekolahmu” kata Ayahnya langsung to the point. Monic kaget dari lamunannya dan menatap ayahnya dengan perasaan bercampur heran dan tidak percaya sekaligus marah yang menyergap hatinya.
*****
Monic menatap papan tulis dengan lemas, Ia tak tahu harus berbuat apa untuk membuat hatinya tenang. “Apa aku harus kabur dari rumah ? apa aku harus benar-benar mogok sekolah ? atau mungkin aku harus bunuh diri aja sekalian ?” batinnya bertanya pada dirinya. “Tapi aku gak mungkin kabur, aku takkan bisa hidup di luar sana. Aku juga tak mungkin mogok sekolah atau tak menuruti kedua orangtuaku, merekalah alasan aku hidup di dunia ini. Aku juga tak mungkin melakukan bunuh diri sebagai jawabanku, aku takut dosa” jawab batinnya dengan lesu melihat sekeliling kelasnya.
“Hai, kau sakit ? mukamu pucat” tanya Nita dengan ramahnya di samping Monic saat bunyi istirahat.
“Tidak, aku tak papa. Kenapa kamu begitu perhatian denganku ? padahal aku sudah berusaha bersikap judes supaya kamu tahu kalau aku gak suka sama anak desa yang kampungan” jawab Monic frontal.
“Kau jahat ? kurasa tidak. Kau hanya tak terbiasa hidup disini, kau tak terbiasa dengan keadaanmu sekarang, kau tak menikmati hidupmu saja karena kau belum beradptasi saja. Aku tahu kau baik. Kau punya masalah ? mukamu menunjukkan hal itu padaku”
Monic diam dengan jawaban Nita, ia berfikir apa benar Nita tulus ingin berteman dengan anak sombong sepertinya, “Kamu anak karawitan ?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ya, hanya beberapa dari sekolah ini yang ikut sehingga kita kekurangan personil satu orang dan kurasa anak-anak di lingkungan desa ini bukannya tak berminat tapi mereka sibuk akan pekerjaannya untuk membantu menafkahi keluarganya. Makanya kita sedang mencari orang-orang yang punya kemampuan dan kesempatan, ya.. sepertimu”
“Jadi itu maksudmu mendekatiku, iya kan ?”
“Kau terlalu naif, Monic. Meski itu maksud sebenarnya, tapi aku berteman dengan tulus. Artinya aku takkan memaksamu dan kalau pun kamu tak mau aku juga takkan pernah menjadikanmu musuh”
“Aku ingin lihat dulu” jawab Monic ingin mengakhiri pembicaraan.
“Mungkin kamu heran, tapi dengan senang hati akan kutunjukkan bagaimana ekstra karawitan eksis di sekolah ini” balas Nita. Monic diam menatap Nita melamun, kata-kata Nita membuatnya terngiang terus seluruh perkataan ayahnya siang kemarin yang membuatnya bingung hingga ia menangis seharian di kamar tanpa makan dan mandi.
*****
“Dulu waktu ayah masih kecil hidup di desa ini, ayah suka sekali ikut main gamelan dengan kakek. Gamelan di desa ini sangat maju dulu karena ada kakekmu, tapi begitu beliau meninggal tak ada penerus kecuali ayah. Dan ayah gagal meneruskan itu, ayah malah memilih merantau ke kota. Ayah merasa bersalah sekarang melihat desa ini kalah dengan desa lainnya, kemarin Pak Kades datang dan meminta bantuan pada ayah untuk membangun kembali musik tradisional Indonesia itu. Ayah mengusulkan untuk membangun kebudayaan itu dari sekolah. Bukannya ayah memaksamu tapi setidaknya sebagai anak ayah kau harus ikut andil di dalamnya. Dan kebetulan sekali, di sekolahmu kekurangan satu personil. Apa kau mau menuruti keinginan ayah ?”
Monic diam termenung, hatinya sudah panas membara mendengar keinginan ayahnya. Tapi ia tak berani mengungkapkannya, ia takut ayahnya akan kecewa padanya. “Aku, ikut kayak begituan. Ayah kenapa gak pernah mikirin perasaanku sekarang ? kenapa semua masalah mendatangiku, aku itu belum bisa beradaptasi di tempat ini dan sekarang aku harus mengikuti musik kampungan seperti itu. Apa kata teman-temanku nantinya kalau aku kembali ?” batinnya.
Melihat Monic tetap diam, Ayah Monic berdiri dan menepuk pendak Monic “Pikirkan itu baik-baik. Semoga jawabanmu adalah yang terbaik bagimu”. Beliau meninggalkan Monic dan menutup pintu kamar Monic pelan. Seketika pecah tangis Monic, ia yumpahkan segala kekecewaan kegelisahan hatinya dalam isak tangisnya. Ia berusaha mengingat kapan terakhir kali ia menuruti perkataan orangtuanya, apalagi ayahnya. Ia selalu meminta hadiah, pujian, apapun tapi ia selalu menolak ketika ayahnya meminta sesuatu darinya. Ia sadar kalau sekarang ayahnya sudah tak bisa lagi memberi apapun padanya dan giliran dirinyalah yang membalas kebaikan hati ayahnya.
“Tapi kenapa mesti harus karawitan. Kenapa ayah gak suruh Monic kerja saja ? atau suruh Monic tetap rajin seperti dulu ? atau suruh Monic sekarang belajar masak, bersih-bersih gitu ? atau belajar jadi anak desa sini atau apalah ?” batinnya dalam tangis.
*****
Nita menghampiri bangku Monic dengan tas di punggungnya seakan sudah siap utuk berpetualang. Monic menatap heran ke arah Nita, “Langsung ? tapi aku ingin berganti baju dahulu di rumah” katanya membereskan bukunya yang berserakan di bangku.
“Kita harus lekas berangkat sebelum sore, ini membutuhkan waktu yang lama” jawab Nita bersemangat sambil mengibaskan tasnya. Monic diam, ia semakin heran melihat temannya tapi ia segera menurut saja sebelum semangat temannya itu hilang.
Nita membuka pintu kayu reyot dengan gembok kecil berkarat dari sebuah gubuk yang terlihat sudah lama tak pernah dijemahi seseorangpun. “Tempat apa ini ?” tanya Monic heran karena Nita membawanya ke gubuk belakang sekolah itu.
“Ya lihatlah” jawab Nita menunjuk ke dalam gubuk. Monic mengintip dengan takut ke dalam gubuk, ia mengira Nita mengerjai dirinya. Tapi bukannya manusia berwujud hantu yang dilihat Monic melainkan alat-alat gamelan tua. Monic masuk dengan ragu-ragu ke gubuk itu sambil memandang satu-satu semua alat tua lusuh yang terlihat sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. “Kau heran ya, kenapa aku mengajakmu ke tempat barang rongsokan yang sudah tidak biasa digunakan lagi ?” lanjut Nita menepuk pundak Monic.
“Tidak juga, aku tahu ini tempat kita latihan nantinya. Mana yang lainnya ?” balas Monic tak seperti kata hatinya.
“Tunggu saja, mereka pasti akan datang” jawab Nita tersenyum. “Sebelum itu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”. Monic diam terheran, ia tak mengerti apa yang akan ditunjukkan Nita padanya, namun tak berapa lama suara lantunan karawitan terdengar halus dari gubuk tua itu.
******
3 hari kemudian
Monic dan Nita berlari ke arah gubuk tua di belakang sekolah sambil membawa minuman di tangannya. Tergambar di wajah mereka kesenangan dan kegembiraan meski terik matahari menyinari dengan cerah dan menyengat ke arah mereka. “Monic, tolong kau siapkan ruangan dahulu. Aku akan memanggil personil kita” kata Nita berlari ke arah berlawanan dengan Monic. Monic menginyakan dan melihat Nita hingga ia menghilang dalam pandangannya, saat itulah ia menghentikan larinya dan berjalan santai ke arah gubuk tua beberapa meter darinya.
Monic duduk diam menunggu Nita dan teman-temannya sambil masih memegang sulak di tangannya. “Maafkan aku Nita, mungkin aku terlihat senang mengikuti ini semua. Tapi sebenarnya, aku hanya melakukan demi kedua orangtuaku saja, aku sama sekali benci dengan hidupku sekarang. Aku tersiksa setiap kali kita latihan, karena itulah meski sudah 3 hari berlatih tak satupun nada yang bisa kukuasai. Aku masih belum menemukan cara untuk ikhlas bermain musik kampungan ini” kata Monic pada dirinya sendiri melamun menghadap jalan berumput tak teratur.
Nita datang dengan ketiga temannya, Marni, Jodi dan Toni. Dari keempat temannya, Monic bisa menebak dari raut wajah mereka kalau hanya Nita sajalah yang bersemangat. Tak ingin mengecewakan Nita, Monic memaksa tersenyum menunjukkan semangatnya pada Nita,
Monic membuka pintu rumahnya dengan lemah, ibunya yang duduk di ruang tamu langsung menoleh dan heran melihat anaknya. “Kau capek ?” tanya Ibu Monic.
“Aku capek karena harus latihan” jawab Monic dengan suntuk duduk di samping ibunya.
“Kau masih saja membohongi temanmu...” balas ibunya.
“Aku...aku tak bisa untuk ikhlas sepenuhnya”
“Kau tahu, Nita sebenarnya sudah tahu akan hal ini. Ia datang ke rumah dan membicarakannya kemarin malam saat kau sedang di kamar berpura-pura belajar. Ia tahu kalau kau sebenarnya terpaksa bahkan masih membenci. Tapi Nita punya kenangan yang membuatnya tak jera menghadapi sikap apatismu. Kau seharusnya sangat bersyukur punya teman sepertinya bukan malah berkhianat. Ibu dengar waktu Nita meyakinkan dirimu soal karawitan dan kau menjawab dengan mantap seakan hatimu memang sudah disana. Saat itu, Ibu sebenarnya ingin mencegahmu berkata seperti itu kalau memang hatimu itu tak menyukainya, karena itu akan terasa menyakitkan di mata Nita tiap kali ia melihatmu bersemangat dan tersenyum padahal kamu sebenarnya mencemooh dan ingin segara berpaling dari kehidupan barumu ini”
Monic diam, Ia langsung terbayang bagaimana Nita sangat senang menyambutnya saat ia mengatakan ikut dan saat itulah Nita memperjuangkan semua alat di gubuk tua itu agar berguna. Sedang ia membalas kebaikan Nita dengan sikap bohongnya.“Teman macam apa aku ini!” batinnya sambil melepas tas sekolahnya.”Aku harus terus terang padanya”.
Rumah Nita terasa sepi saat Monic datang dengan nafas tersengal-sengal. Tapi ia mendengar suara Nita dengan jelas meski berbisik dari pelataran belakang rumah. Dengan mengendap-ngendap Monic mengintip pelataran belakng rumah Nita dan ia dapat melihat Marni, Toni dan Jodi berdiri melingkari Nita yang duduk di sebuah amben. “Apa yang mereka bicarakan ya ?” batinnya memperuncing indera pendengarannya, barulah ia dapat mendengar percakapan mereka meski sedikit samar-samar.
“Kita tidak bisa seperti ini terus. Pertamanya memang ini sempat membuatku sangat senang, tapi makin lama akan tak baik jadinya. Ibuku melarangku sekaligus menyadarkanku, Ta, kalau kita tak bisa mengikuti sesuatu jika kita tak sepenuh hati, itu akan sia-sia. Karawitan kita gak akan bisa bagus, kalau personilnya tidak sepenuh hati” tutur Marni mewakili kedua temannya.
“Tapi aku hanya ingin memenuhi jajiku pada ibuku saja. Kau tahu kan, aku ini sebenarnya bernasib tak jauh bereda dari Monic. Orang kota yang terdampar di desa terpencil dan hal itu merubah hidupnya. Bahkan mungkin aku lebih parah dari Monic, aku sampai hampir kabur dari sini karena aku merasa hal terburuk yag pernah kualami adalah kehilangan harapan hidup dan tepat saat aku pindah kesini, detik itulah aku kehilangan semangat hidupku, impianku, cita-citaku, segalanya dari hidupku sebelumnya. Melihat Monic rasanya aku terus teringat ibuku yang sudah meninggal. Aku ingat saat ibuku tak bisa menyadarkanku sama sekali sedang Monic masih saja menuruti keinginan orangtuanya meski itu sangat pahit di hati dan pikirannya. Karena itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk memenuhi janjiku pada ibu dan menyadarkan Monic sepenuhnya sebagai imbalan kenakalanku dulu. Kalian mau kan menolongku ?”
“Bukannya kami membenci ini atau tak mau menolongmu, Ta. Bahkan kami sangatlah menyesal kalau sampai meninggalkan kegiatan ini. Kami hanya ingin mengikuti ini tanpa imbalan apapun dan itu artinya datang dari hati. Sayangnya, itu akan menyita waktu kerjaku dan aku butuh uang, Nita” jawab Marni lagi.
“Aku tak tahu teman-teman. Rasanya aku ingin menyerah dengan semua ini, Monic juga membenci ekstra ini. Ia hanya kelihatannya saja mendukung, kalau kalian memang inginnya seperti itu, aku akan bubarkan semuanya. Aku telah gagal memenuhi janjiku sendiri dan menyadarkan Monic, aku menyerah” kata Nita mengusap air matanya meninggalkan teman-temannya.
Marni dan lainnya hanya bisa membisu melihat itu, mereka tak tega sebenarnya tapi apa boleh buat kenyataan itu memang tak selalu terasa manis. Tak ada pilihan lain, mereka meninggalkan rumah Nita. Tapi di tengah jalan, tangan Marni yang berjalan paling belakang ditarik oleh seseorang dan orang itu adalah Monic.
“Aku tak ingin mengecewakan temanku lagi” katanya pada Marni dengan mata berbinar-binar.
*****
Nita berdiri setelah guru terakhir pelajaran keluar, ia berjalan berhati-hati menghampiri Monic dengan keringat dingin mengucuri tubuhnya. “Monic, kita harus mengakhiri latihan karawitannya. Kamu mau kan nemenin aku bilang hal ini ke Bu Endang ?” tanya Nita tak berani menatap Monic.
“Ehmm...males. Daripada memberitahu mending kita manggil Bu Endang untuk ngajar karawitan hari ini” jawab Monic santai mendengar bunyi bel pulang.
Nita terpaku diam, ia tak mengerti apa yang dibicarakan temannya. “Ayo.., percaya aja sama aku. Marni sudah menunggu kita tuh!” kata Monic menarik tangan Nita melihat Marni sudah di depan pintu kelasnya.
“Sebenarnya ada apa ini ?” tanya Nita menyentakkan tangannya begitu sampai di depan gubuk tua tempat latihan karawitan.
“Aku kembali” kata Marni singkat.
“Terus ? kau...” balas Nita bingung melihat Monic tersenyum ke arahnya dengan sangat tulus.
“Aku sadar, Ta. Selama ini aku salah, akan kulakukan sepenuh hati sekarang. Dan...aku..akan kubuktikan kalau aku bisa” sahut Monic menunjukkan seulas senyum dari hatinya.
“Ya, Nita. Maafkan kami, kami salah. Kami tahu sekarang apa yang kau rasakan. Tapi tak hanya itu, Monic telah menemukan jawaban terbaik bagi kita” sahut Toni menjelaskan.
Nita tak menjawab meski ia menunjukkan raut mukanya dengan tanda tanya besar. “Kita akan bekerja bersama setelah latihan. Ayahku sudah memberi peluang itu pada kita dari tokonya. Walaupun waktu latihan kita berkurang tapi setidaknya semua ini bisa berjalan lagi” jawab Monic disambut dengan dengan muka haru Nita.
“Aku harap perjuangan kita tak mengecewakan” kata Nita mengajak Monic dan teman-temannya masuk ke ruangan latihan.
*****
Monic merobek kalender bertanggal 1 Mei 2012, terlihatlah tulisan tangannya “Hari Pendidikan Nasional, Hari Perlombaan Besar Pertama”. Ia tersenyum meninggalkan kalender sambil membetulkan pakaian adat yang ia pakai.
“Monic, semua sudah siap...Ayo!” teriak Ibu Monic dari luar rumah. Monic langsung memasukkan foto teman-temannya dahulu sebelum menjawab teriakan ibunya.
Baru di tengah jalan, ia kembali melihat foto teman-teman lamanya. “Itu temanmu ?” tanya Nita ikut melihat foto ditangan Monic.
“Ya. Kira-kira kalau mereka tahu, mereka bangga atau gak ya ?” tanya Monic ingat kenangan indah liburan bersama.
“Kujamin mereka akan tercengang dan mencemooh dirimu” jawab Nita. Monic menatap ke arah Nita dengan heran. “Ya aku itu kan sama kayak kamu. Jadi pastinya temanmu tak jauh beda” lanjutnya. Monic hanya menjawab dengan senyuman ejekan meski Nita sebenarnya tak bercanda.
Monic duduk dengan gugup dan gundah di kursi peserta, setiap kali mengikuti perlombaan ia tak pernah sekalipun berani mendengarkan hasil perlombaan. Monic malah memilih mendengar musik-musik korean yang sudah lama ia tak pernah mendengarkannya lagi. Meskipun begitu, ia masih sangat menikmati musik dari handphonenya hingga tak mendengar nama SMPnya disebutkan dengan suara terkeras.
“SMP Suka Maju....” kata pembawa acara dengan hebohnya. Nita langsung melonjak senang dan menarik lengan baju Monic sangat kencang sehingga membuat Monic hampir saja terjatuh dari kursinya. Monic langsung menyambut Nita dengan teriakannya melihat Marni maju ke atas panggung mendapat gelar juara 1.
“Aku memang sudah membayangkan ini akan terjadi dan... terjadilah hari ini. Ini pembuktian kalau sekolah pinggiran saja bisa menang karena perjuangan sendiri. Semoga ini juga membuat di hari pendidikan ini takkan ada lagi namanya sekolah pinggiran” batin Monic menutup matanya memulai tidur malamnya setelah melalui hari yang sangat melelahkan. Ia menatap sebuah foto dirinya bermain karawitan bersama kelompoknya yang diambil oleh para panitia.
*****
8 bulan kemudian...
“Kakak,...” teriak Monic menyambut kakaknya. Kakaknya memeluk dirinya dengan lembut. “Naik apa ?” tanya Monic heran tak melihat kendaraan apapun di luar rumahnya.
“Kakak naik mobil, tak bisa masuk” jawab Kakak Monic menghampiri kedua orangtuanya.
“Mobil ? wah,..” balas Monic tak percaya.
“Ya itu, alhamdullilah kakak dapat pekerjaan yang memadai. Kata ibu, aku harus menjemputmu”
“Menjemputku ?”
“Ya Monic, katanya kamu gak kerasan disini. Ibu kan sudah janji sama kamu untuk mengembalikan kehidupan lamamu dengan segera” sahut Ibu Monic membawa minum dari dapur.
“Oh itukan dulu, Bu. Tak usah diungkit-ungkit lagi, aku tak akan kembali. Aku bahagia disini, aku menemukan arti hidupku di tempat ini”
“Benar ini, yakin ?” pancing Kakak Monic meledek.
“Aku punya ide yang lebih baik untuk menggunakan biaya sekolahku yang sudah kakak siapin” balas Monic dengan senyuman melirik ke arah piala kejuaraan provinsi yang barusan ia dapatkan.
******
No comments:
Post a Comment